Mencari posisi nyaman

LAUV The Other
{{heart_svg}}LikeLiked
0

©Lauv, 2015, all rights reserved


Hello 2017

Post pertama di 2017, agak telat ya? Sekarang sudah bulan ke-empat. Mungkin yang nge-update lagi sibuk sama seseorang yang baru atau lagi repot ngurusin kerjaan atau belum ada ide saja untuk dituangkan dalam tulisan, semua mungkin lho ya. ide nya siapa? ya… **smos.

logika wanita yang ingat hanya disakiti tapi tidak saat menyakiti meme
Entah apa korelasi gambar dengan caption. Soalnya mereka keliatan baik-baik aja.

Pertanyaan selanjutnya; Bagaimana resolusi akhir tahun setelah akhir kuartal pertama 2017? Jawaban mudahnya; “ya, remang-remang seperti berada di diskotik dangdut.” Resolusi akhir tahun sekedar alat untuk menghibur diri. Bahwa kita harus memiliki cita – cita, setidaknya menjadi diri yang lebih baik dari sebelumnya.

Manusia memiliki akal pikiran dalam bentuk moral kompas untuk menentukan rasa benar dan salah, yang kemudian membentuk norma – norma dalam hidup bermasyarakat, atau apapun yang dibilang Sigmund Freud. Kondisi psikologis inilah yang memotivasi manusia dalam menjalani hidup, selalu berusaha untuk membuat kehidupannya lebih baik.

Setelah utak – atik tampilan blog, dilanjut dengan kembali membaca postingan blog, kok rasanya mulai agak beda? ngerasa banyak penggunaan tata bahasa yang terlalu kaku, kebanyakan ngelantur dan cenderung akademis. Sehingga isi konten kurang mudah untuk dicerna para pemirsa. Pantes aja traffic gak naik-naik?! (SEO tetep penting)

Salah satu resolusi tahun ini adalah ingin menulis konten yang lebih menarik, komunikatif dan mudah dibaca. Hal ini dilakukan dengan cara mengurangi jiwa yang terlalu sastrawan, lebih luwes dalam aturan prosa, paragraf, dan tata bahasa lainnya. Kemudian yang terpenting adalah; “Klo lagi baper jangan nulis. Istilah anak sekarang; “lemesin dikit bro! jangan dilawan.”

“Klo lagi baper jangan nulis.”

Logika VS Perasaan

Tulisan kali ini bisa dibilang dipengaruhi oleh seseorang yang bisa disebut “a mirror image of myself” (semua serba kebalikan) Bahwa tidak semua yang kita rasakan dapat di-share dan ditunjukkan ke orang lain. Perasaan diungkapkan bergantung pada waktu, tempat dan porsinya masing-masing.

Terkadang beberapa orang terlalu sulit untuk mengungkapkan perasaannya, dan ada yang selalu menunjukkan apa yang dirasakan. Namun, yang jelas untuk menjalin suatu hubungan bukanlah ajang kontes untuk cari pemenang. Apabila ada rasa saling perduli, maka mereka harus bisa berbagi.

Sebagai contoh ketika suatu pasangan sedang bertengkar, mereka berusaha terlihat tegar dan cuek tapi kok ngangenin? Luapan emosi telah surut dengan adanya istirahat yang cukup dan jeda waktu, logika kembali muncul setelah sempat tertutup. Mereka pun kemudian menganalisa; “apa sih yang menjadi inti pertengkaran tersebut?” “Solusi apa yang bisa dilakukan sama – sama?” Kadang kok susah ya untuk sekedar ngomong kangen dan pengen baikan lagi? Zee Zeee..

Hayo, Fokus!

Komunikasi dua arah pasti memiliki kendala dalam kehidupan sosial, sungguh sulit menjalin hubungan di era media sosial. Teknologi memudahkan berkomunikasi cepat dan mengirim pesan dengan tulisan verbal.

Terkadang terpikir pada jaman analog lebih mudah untuk berkomunikasi; telpon-telponan berjam-jam sampai kuping panas, trus sama-sama gak mau nutup telpon, lantas betah nongkrong di telpon umum dengan ngakalin koin pake benang dan ngasih lilin pada kartel (kartu telepon magnet) Not me lho. Minimal mesti sedia pensil klo nelpon dari rumah (klo ngerti, berarti Anda tua!) Apalagi di jaman pager. Gak malu ketika berbicara dengan operator; “Met bobo ya, swit drim.. Dua kali ya mas!”

Di satu sisi teknologi memang lebih menguntungkan karena jelas lebih cepat sampai dibanding merpati pos, kemudian pesan dapat di-edit, sesuatu yang menyebabkan gregory (baca: groggy) klo berbicara tatap muka, tidak ada rasa sungkan atau merasa malu karena tidak bertemu langsung, bisa mendekatkan jarak hubungan yang jauh dan menjauhkan yang jelas – jelas sebelahan sibuk pegang hape. Hmm, dan juga sebagai sarana silaturahmi teman atau kenalan lama.

Tetapi yang namanya tulisan, yang terdiri hanya beberapa susunan kata dalam kalimat, klo dibaca dengan intonasi dan nada bicara yang tidak sama dengan si pengirim pesan, maka dapat berbeda pemahaman. Hal ini yang kadang menyebabkan salah sambung dan miskomunikasi yang dapat berujung ke pertikaian atau bahkan perkelahian saling baku hantam.

Munculah ide posting meme atau komunikasi melalui pesan yang blunder, error dan gagal paham dalam bentuk ide screencap percakapan. Apakah kejadian-kejadian benar terjadi yang diunggah atau sekedar rekayasa lucu – lucuan saja? Yang jelas sih, sebagian itu ide kreasi sayah, jangan diambil serius apalagi baper ya!

Nasip para PP (Pejuang Pedekate)

Para pembalap di tikungan

Jadian belum tentu benar

-Will updating again soon-

 

Angus dawson listen

Would you listen?

Hulu Casual

Looking for: ‘Casual’

kalau bicara cinta

Bicara Cinta

1 comments On Mencari posisi nyaman

  • I have checked your page and i’ve found some duplicate content,
    that’s why you don’t rank high in google, but there is a tool that can help you to create 100% unique content, search for:
    SSundee advices unlimited content for your blog

Leave a reply:

Your email address will not be published.