Harapan, ekspektasi & realiti

mencari posisi nyaman insert

©Dua band,2009 | ©Nathan Goshen, 2016 |©Nina Garado, 2000 | all rights reserved


Proses.

Kata – kata pertama dalam tiap tulisan merupakan sebuah proses sulit bagi setiap orang yang ingin menulis tentang sesuatu, mencari kata yang tepat dalam memulai suatu awalan tentang sebuah topik. Setelah melalui revisi berulang kali, sampai sempat tertunda sebulan lebih, dari sekedar kontemplasi biasa sampai bertapa di pohon semangka, mutih, meditasi, sampai sering termenung sendiri di tengah jalan tol (jangan ditiru, berbahaya) untuk mencoba terus menggali sampai akhirnya bisa meneruskan postingan kali ini.

Kuncinya? dimulai dari jujur pada diri sendiri dan mencoba menulis dari hati. Sebetulnya masih nyaman mengungkapkan dalam bahasa Inggris. Namun, setelah menuai protes dan masukan dari para pembaca yang jumlahnya mungkin bisa dihitung jari. (haha pede traffic akan meningkat) Coba mengajak untuk menyimak sebuah renungan ini.

Harapan.

Hidup banyak memberikan pelajaran berharga dan pengalaman baru buat kita. Sekaligus juga bisa memberikan sebuah peringatan, bahwa tidak ada sesuatu yang di dapat secara instan dan dengan mudah diraih. Proses perjalanan hidup seakan terus memaksa untuk belajar dalam membentuk manusia menjadi suatu pribadi yang berkarakter. Sebuah proses pembelajaran yang sangat berharga atau tidak, tergantung memandangnya. Rasa manis, pahit, asin, atau setengah mateng? Semua nya mesti kita lalui dan hadapi juga pada akhirnya. Tak peduli seberapa jauh kita coba berlari dan menghindarinya.

Setiap manusia pasti memiliki yang namanya harapan, cita – cita, angan, maupun asa. Karena tanpa itu kita bagai tempurung kosong yang berjalan tanpa arah dan tujuan. Mengapa harapan itu diperlukan? Karena dengan kita berharap sesuatu, hal itu dapat menumbuhkan motivasi dan aura positif dalam proses menjalani hidup. Sesuatu pengharapan yang tersimpan dalam diri. Dimana kita selalu saja menanyakan apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup yang singkat ini? Sebuah kebahagiaan? Harapan atas kebahagiaan dalam hidup dapat menciptakan suatu motivasi yang kuat untuk selalu berusaha  lebih baik lagi dan tidak cepat putus asa.

Bahagia.., sebuah rangkaian kata yang sederhana, tetapi, tidak mudah dijelaskan apa arti hakiki sebuah kebahagiaan. Setiap orang pasti memiliki pendapat, opini, persepsi, dan definisi yang berbeda dalam mendiskripsikan arti bahagia.

Namanya orang hidup di dunia, semua pasti tidak ada yang ingin menderita. Tidak ada satupun yang ingin terus menerus larut dalam kesedihan. Jadi sudah jelas, bahwa semua ingin bahagia. Tetapi,  jalan menujunya tidak pernah mudah. Ibarat ditunjukan sebuah jalan oleh Waze, tapi di depan ternyata sebuah jembatan sempit, dari kayu, hanya muat satu kendaraan dan mesti melintasi sungai.

Bagi sebagian yang dianugerahi oleh beberapa kelebihan, merasa mudah mendapatkan dirinya telah dikelilingi oleh kebahagiaan, tapi tidak sedikit yang merasa, seolah tak pernah mengerti, kenapa dalam hidup tak pernah menemui rasa bahagia.

Tidak sama dengan

Tapi satu hal yang perlu ditegaskan disini adalah; banyak orang beranggapan bahwa; kebahagiaan itu bisa di raih hanya dengan uang. Mungkin tidak sepenuhnya salah, memang di dunia modern ini, semuanya memerlukan uang. Setuju, uang memang penting untuk dicari. Tapi, uang bukanlah tujuan utama. Karena banyak hal – hal indah dalam hidup ini yang tidak dapat diraih dan dicapai hanya dengan uang. Cinta dan kasih sayang contohnya. Bisakah kita membeli segenggam cinta? atau rasa ingin dicintai? dan ingin memiliki? Mungkin saja bisa, tapi apakah itu adalah sesuatu yang bersifat riil dan bukan hanya bayangan semu belaka? Entah, jawabannya ada di diri masing – masing.

Harapan tidak lah sama dengan mimpi. Mimpi  masih bersifat abstrak untuk diwujudkan, Jadi anggap harapan itu merupakan hal – hal yang nyata dan konkrit yang dapat diraih tanpa terlalu dipaksakan. Karena sesuatu yang kita paksakan, hasilnya hanya berujung kecewa. Ironis-nya adalah; kekecewaan pula yang akhirnya dapat memaksa untuk menurunkan dan membatasi segala ekspektasi kita.

Di saat kita terbentur oleh sebuah harapan palsu (bahasa anak sekarang Pehape) atau dapat juga berbentuk harapan yang di politisasi dan di rekayasa sedemikian rupa untuk pencapaian ego seseorang. Maka hal ini biasanya akan juga mengorbankan harapan orang lain. Terkadang kita dibuat terbuai terlena oleh secercah harapan yang di iming- imingi oleh seseorang.

Tapi, apakah lantas harus berhenti berharap?

Ekspektasi.

Beda dengan harapan yang kita miliki, ekspektasi adalah sebuah keinginan yang ingin dapat terwujud dalam masa waktu yang singkat. Biasanya ekspektasi berasal dari buah akal pikiran kita dalam menganalisa sebuah situasi.

Dalam sebuah permainan “cinta” Sulit untuk membatasi ekspektasi agar tidak berlebih. Hal ini biasanya terjadi setelah kita jatuh dalam sebuah pengharapan dan menginginkan cinta dari seseorang.

Love is just a game, and we all players. Some of us are the coach.

Akan tetapi, dimana ada permainan, pasti ada para pemain – pemain yang mengerti betapa berharga sebuah ekspektasi lebih tersebut. Dimana, seorang pemain dapat memanfaatkan situasi ini menjadi hal yang menguntungkan bagi dirinya. sah saja, kita semua yang bermain tentu sadar akan segala bentu resikonya. Masalah siap atau tidak, tergantung bagaimana kita bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Namun ada aturan main yang paling penting dalam permainan ini; Bahwa kita tidak bisa memaksakan.

Andai hati bisa diatur

Hati dan perasaan manusia merupakan satu hal yang sulit sekali untuk dikendalikan. Padahal kerja hati itu sederhana, untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh kita. Tapi anehnya, begitu kita mulai merasakan sudah terganggu oleh hadir maupun ketidakhadiran seseorang, rasa menggelitik pun muncul ingin tahu. Hal itu merupakan sebuah peringatan bahwa kita mulai merasa nyaman dengan kehadiran seseorang tersebut.

Nyaman itu BAHAYA.

Waktu dan mungkin cuma waktu yang bisa menjawab semua ekspektasi kita. Terkadang suka berandai bagaimana rasanya jika punya mesin waktu? Mungkin dapat digunakan untuk menjawab ekspektasi tersebut, ingin rasanya melongok ke masa depan, cuma untuk tahu, apakah semua hal yang kita lakukan sekarang ini, worthy enough dan pantas untuk kita perjuangkan?

Back to the future

Bicara soal mesin waktu, begitupun sebaliknya, untuk memperbaiki segala kejadian dan perbuatan kita di masa lalu. Klasik memang, namun seandainya bisa, rasanya ingin kembali ke suatu titik, sebuah tempat dalam ruang waktu. Dimana kalau bisa memilih, untuk tidak hadir di sebuah acara di suatu tempat. Apa yang terjadi? Karena dengan begitu, mungkin tidak akan bertemu dengan seseorang, Haa! Yang bisa saja membuat segala sesuatunya akan berbeda.

Ekspektasi adalah sesuatu yang dimiliki setiap orang. Semua tergantung bagaimana kita dapat membatasi hal tersebut ke sesuatu yang realistis dan dapat diraih, jangan seperti peribahasa “bagaikan punuk merindu bulan” Jangan biarkan ekspektasi tersebut menjadi tumbuh liar tanpa didasari oleh analisa yang mendalam  sebelumnya terhadap situasi yang ada.

Setelah melalui berbagai macam cerita, semua itu biasanya akan disertai dengan kesedihan dan air mata. Karena, tidak semua ditakdirkan untuk bisa bersatu. Ekspektasi akan hilang dihantui oleh perpisahan dan sakit hati. Semua cerita akan menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran yang berharga dan mengingatkan kita untuk berhati – hati selanjutnya. Siapkan saja dan bangun pagar serta tembok yang tinggi, setinggi tembok China, di sekililing hati dan perasaan. Karena tanpa pondasi yang kuat. kita bisa kalah dalam permainan yang bernama cinta. Biasanya, semakin kita membuka hati kita, semakin mudah juga kita untuk dapat dimanfaatkan, tertusuk dan akhirnya terluka,

“Karena itu Tuhan menciptakan cinta, biar yang saling berbeda bisa menyatu.”

To be continued to…..Realiti.

Early morning, 4th December 2016

Realiti.

Pagi ini, dimana dunia lelap tertidur. Heningnya terasa, semua sunyi dan tenang. Kembali terjaga di jam-jam tak menentu lagi. Setelah jenuh wira-wiri di jagad maya, nampaknya pagi ini saat yang tepat untuk melanjutkan post ini setelah dua minggu berlalu. Pagi ini, banyak hal menggelitik yang dapat dituangkan dalam tulisan, sebelum rasa kantuk itu kembali datang, apabila datang, ada baiknya disambut, jangan lah di usir.

Dalam membahas realiti, hal itu terkait erat dengan kejadian – kejadian masa lalu dan berlangsung sampai momen ini sekarang. Kejadian-kejadian tersebut, seperti pondasi dimana kita menaruh semua harapan yang ada. Realiti adalah suatu pil yang pahit atau sebuah permen manis, tergantung apa yang kita alami dan bagaimana kita menyikapinya. Tapi, realiti adalah kenyataan yang tidak pernah ingkar. Dia adalah mahluk yang paling jujur yang selalu menyadarkan kita untuk terbangun, jangan terbuai mimpi, dan memiliki sebuah harapan. Untuk suatu realita yang kita idam-idamkan di masa depan.

Hal yang paling konkrit tentang persepsi sebuah kenyataan dapat dilihat dari jeda waktu posting ini. Dari awal menulis sekitar 2 minggu lalu, sampai tulisan ini dibuat. Banyak hal-hal baru yang tanpa sadar telah terlewati. Perasaan yang menyelimuti saat menulis pun, berbeda, walau tetap ada benang merah, rasa galau dan kembali bingung, pemikiran di titik yang sama pun kembali, ibarat jalan tol, titik ini adalah suatu rest area. Untuk kembali sejenak menselonjorkan kaki dan mereview kembali apa yg sudah terjadi. Tidak bermaksud untuk melakukan over-thinking atau over-analyse seperti yang sebelumnya dilakukan. Namun, beberapa realita yang terjadi, membuat sebuah pemikiran kembali memenuhi benak. Yap, betul sekali, salah satunya adalah tentang hubungan yang semakin dekat. Tapi, bukan hanya itu saja.

Work heart_Play heart

Beberapa realita terjadi dalam dunia pekerjaan. Memaksa untuk menanyakan kembali, segala set prioritas dan kontemplasi tentang arah hidup di tengah usia yang serba tanggung. Keadaan yang ada selanjutnya seperti memudahkan keputusan itu; ‘jalani yang sudah ada dan terbentuk, dan kembali diperjuangkan’ atau yang dapat disingkat dengan ‘UUD’. Setelah 7 tahun berada di lingkungan yang sama, semua orang pasti pernah mengalami demotivasi, jenuh, atau sekedar terlalu lama berada di zona aman. Berkurangnya motivasi dan semangat juang karena sudah merasa nyaman, ingat, nyaman itu, BAHAYA.

Sekarang saat untuk memaksa diri keluar dari zona itu dan bukanlah hal yang mudah, setelah sekian lama terjebak. Harus kembali meluruskan hal-hal yang menjadi prioritas kembali dalam hidup. Segala cita-cita, pengharapan, asa, ekspektasi dan yang terpenting adalah rencana-rencana pencapaian target dari apa dan dimana kita lihat diri kita berada dalam waktu lima atau sepuluh tahun ke depan. Tapi untuk itu, kita harus melewati pagar listrik penuh kawat berduri, bernama zona aman. Semua itu membutuhkan proses bertahap dan tidak akan tahu berapa lama waktunya. Yang jelas, di penghujung 2016 ini, Kita bisa sambut tahun baru nanti dengan penuh harapan.

Berlanjut

Selanjutnya tentang sebuah hubungan yang terjalin sampai pagi ini. Di permukaan saat ini semua dalam keadaan baik-baik, berjalan apa adanya setelah saling dapat mengenali karakter dan sifat masing-masing. Masa penuh problematika yang terjadi satu-persatu secara menerus mulai terurai. Mungkin, memang ada satu isu penting lagi, supaya dapat  lebih berjalan sesuai harapan. Tapi, itu sebuah proses yang masih harus dilewati. perlahan-lahan. *finger’s cross*

Perbedaan mendasar pastilah ada, demikianpun dengan realita yang dilalui, ada yang telah terbiasa berdua ataupun bertiga, dan ada yang memang sudah terbiasa untuk sendiri, semua keinginan yang berbeda bisa dijalani dengan adanya pihak yang mengalah. Dua karakter yang saling bertolak belakang pun menyatu perlahan dengan mulai adanya pengertian dan mengurangi ego. Namun, ada sesuatu yang seperti mengganjal, apakah ini suatu analisa dan perasaan yang berlebihan, ataukah memang ada sesuatu yang membuat menjadi kurang ‘nyaman’? Apakah, segala daya upaya yang dilakukan, malah mengakibatkan hal sebaliknya?

Ada tipe karakter yang lebih ‘ekspresif’ dalam menyampaikan segala hal yang dirasakan, dan ada pula yang pandai menyimpan dan mengungkapkan dengan cara berbeda? atau hanya rasa-rasa yang kurang peka? Pikiran negatif pun kembali muncul, benarkah semuamya akan sia – sia dan hanya berujung untuk memenuhi kebutuhan? Ataukah memang semua masih perlu proses dan waktu untuk terus meyakinkan diri? Namun, sikap dan perilaku yang kadang tak dapat diprediksi, menyebabkan adanya ego yang terluka yang hanya perlu sedikit pengakuan atas segala upaya, serta adanya sedikit penghargaan dan perhatian yang lebih saja. Sesuatu yang tidak bisa dipaksakan dan belum tentu juga mudah untuk dilakukan.

The king of the castle, and the queen of emotions.

Realita atau kenyataan adalah suatu hal yang tak mungkin dapat dihindari (Istilah bekennya adalah ‘lari dari kenyataan’), semua harus dilalui, dan tak dapat ditebak arahnya, Itulah jalan kehidupan yang ditempuh. Semua rasa baik itu; manis, asam, asin, apapun itu adalah sesuatu yang harus selalu kita syukuri dan dinikmati prosesnya. Terkadang hidup tidaklah selalu berjalan sesuai rencana, dan yang bisa dilakukan, hanya menjalani sebaik mungkin dan dengan pandangan positif ke depan dan tetap optimis.


 

Leave a reply:

Your email address will not be published.